Generasi Tinggal Landas

8 06 2009

Oleh: Khoirul Anwar

“Salam buat mantan pacarku, puaskah engkau melukai hati ini?”.

“Ku harap engkau ‘kan ‘salu setia, karena ‘tlah kuberikan semua padamu!”.

“gank nero: neko-neko royok”, “anak-anak kisruh”, “anak-anak punk kota mayit.

Masih banyak lagi yang kita dengar atau kita lihat nada atau tulisan-tulisan semacam itu di radio, TV atau coretan-coretan di bangku sekolah, bangku TPA, tembok-tembok di pinggir jalan. Memang kata-kata itu terasa ganjil bagi kita yang terasing dengan bahasa gaulnya anak sekarang. Tetapi perlu disadari bahwa itu semua adalah hasil sintesis dari benturan-benturan peradaban yang sedang berlangsung, sebuah kebingungan plus pergolakan untuk menunjukakan eksistensi diri “ABG”. Ekspresi, benturan budaya sekaligus rasa gagap terakumulasi dalam kehidupan anak muda yang mengejawantah lewat hasil kemajuan teknologi “sesepuhnya”.

Media, apa saja bentuknya yang penting bisa sebagai media pelampiasan, ingin di-apresiasi kembali dan memberikan warna baru dalam jagad teknologi ini. Mereka tidak ingin kalau media hanya diduduki oleh para “sesepuhnya”, mereka menginginkan persamaan hak dalam menikamati kemajuan dari rahim zamannya. Media komunikasi bukanlah sekedar tempat memperbincangkan politik, bisnis, berita maju mudurnya bangsa, naiknya harga kebutuhan pokok yang terus menghimpit kondisi perekonomian orang tua mereka. Kata mereka: harus ada warna baru, sensasi yang beda dalam media informasi. Dari sinilah terciptakan kata-kata, adegan-adegan yang memang bukan untuk disandiwarakan, dipura-purakan, melainkan sebuah kenyataan. Mereka para pencipta peradaban baru meskipun peradaban yang entah berantah dan keluar dari epistimilogi “adab”.

Kemunculan perilaku dikalangan anak muda merupakan kerinduan mengenai sesuatu yang beda, sebuah motivasi untuk hadir, sebuah kerinduan untuk menunjukkan: ini dadaku! Tampil dan eksis. Membuat budaya tandingan dengan penduhulunya, mereka tak mau dikatakan membebek para “sesepuhnya yag terlihat “ndeso”. Mereka ingin meniru perilaku superior, layaknya supermen dengan gesit dan tangkasnya dalam bertindak sehingga menimbulkan kejutan-kejutan. Ini adalah “shock terapy” bagi orang tua.

Demam eksis bukanlah sesuatau yang abnoramal, begitu Ainun Najib mengatakan. Ia sah dan wajar dan amat manusiawi. Itu vitalitas pribadi. Energi hidup. Potensi. Anak kita begitu nakal, tapi ini suatu potensi: setiap perwujudan potensi butuh modus, bentuk media, atau saluran-saluran. Persoalannya ialah, bentuk-ragam lingkungan sosial budaya kita seberapa banyak dan berkualitas menyediakan kemungkinan untuk itu. Atau, dalam prinsip-prinsip kretivitas, apakah pendidikan bagi manusia-mansuia serta kebiasaan-kebiasan kehidupan mendorong mereka untuk mencari manefestasi dari potensinya masing-masing. Kemudian apakah masyarakat mampu menampungnya dan memberi ruang gerak baginya. (Emha Ainun Najib. Indonesia bagian dari desa saya, hal.90)

Ambil contoh: GANK NERO misalnya. Ia adalah manefestasi bahwa perempuan juga kuat, bisa berkelahi. Perempuan bukan identik dengan kefeminimannya yang selama ini diciptakan dalam benak kita. Mereka juga bisa membuat perkumpulan, menggalang rasa solidaritas diantara anggota, perempuan. Mereka juga ingin di hormati, ditakuti. Mereka tidak ingin menjadi objek terus tetapi menjdi subjek yang memainkan pergaulan. Mereka tak mau diperkosa kalau bisa gantian mereka yang memperkosa. Hanya saja cara mengekspresiakan wujud pemberontakan salah “:empan-papan”. Pemberontakan mereka seharusnya dimulai dari paradigma yang selama ini dibangun oleh masyarakat. Karena selama ini paradigma mengenai solidaritas, rasa superior, dihormati terlebih dahulu dengan menciptakan gank, berubah menjadi rahwana, buta yang menakutkan. Ini adalah peninggalan peradaban yang minim reativitas, sepi dari filosofi. Rasa dihormati tak perlu dengan membentuk perkumpulan yang menyeramkan, dengan wajah garang, rambut acak-acakan. Kita harus ingat dengan nilai-niai luhur yang mengatakan bahwa” ngluruk tanpo bolo, sekti tanpa aji, menang tanpo ngasorake”, pitutur luhur ini menegaskan bahwa untuk menjadi orang disegani tidak selalu dengan berwajah garang atau bersikap tangan besi kepada orang lain. Rasa hormat bisa dibangun lewat kecerdasan itntelektual, maupun kesalehan spiritual maupun sosial. Fenomena yang berkembang dikalangan anak-anak muda merupakan bentuk krisis. Krisis apa? Bisa krisis kreativitas, krisis keterbatasan untuk memaknai nilai-nilai agama maupun norma-norma atupun krisis untuk mengekspriskan potensi diri.

Anak-anak kita bukan lagi sebuah layang-layang, yang berlenggak-lenggok diangkasa tapi masih kita kendalikan. Anak-anak kita adalah sebuah pesawat dan dikemudikan oleh dirinya sendiri. Mereka telah meninggalkan landasan dan melesat entah kemana. Apakah ia akan mendarat pada peradaban yang luhur atau mereka hanya akan terperosok ke lembah kehancuran. Saat ini mereka bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Melesat dengan cepat, tepat sasarannya dari anak panah tergantung dari kita bagaimana kita mengarahkan anakk panah tersebut ketika masih diantara busur dan gendewa. Artinya baik buruknya anak tergantung didikan keluarga, kebiasan keluarga menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Kenakalan remaja bukanlah timbul dari satu faktor saja, melainkan banyak faktor yang menyelimuti keadaan mereka. Anak ibaratnya sebuah senyawa kompleks yang ditentukan dari ligan-ligan yang menyumbangkan “elektron peradaban” pada pemikiran yang akhirnya membentuk sifat yang komplek pula. Seringkali kita menyalahkan lembaga pendidikan yang tak becus mendidik atau menyalahkan lingkungan sekitar kita yang notabenenya memang sudah salah. Kita memang tak pernah berfikir dari perilaku kita senddiri.

Anak adalah bentuk copy diri kita. Copy-an sifat yang dibawalah oleh DNA yang tersimpan pada Sperma dan Indung telur. Sedangkan keduanya tersimpan dalam tempat yang di set memang untuk merekam perilaku kita. Ibaratnya dia adalah kotak hitam pada sebuah pesawat, yang merekam segala komunikasi yang kita lakukan. Jadi perilaku kita sebelum berkeluarga juga menyumbang factor penentu sifat pada diri anak. Ini belum lagi ditambah saat kita melakukan Saresmi, apakah kegiatan yang begitu sakral ini selimuti nafsu atau memang bertujuan ingin menitiskan benih yang unggul sehingga memunculkan “bocah” yang berakhlak mulia.

Sekali lagi kenakalan remaja tak hanya tercipat oleh faktor lingkungan, melainkan sebuah hasil reaksi dari berbagi komponen (perilaku) yang akhirnya mengendap dibawah sadar anak. Kenakalan remaja adalah protes keadaan, waktu yang disalurkan lewat anak mengenai miskinnya Uswatun hasanah . karena seringkali terjadi antara ucapan orang tua saat menasehati anak tidak sesuai dengan perilakunya sendiri. Saatnya berhenti memberikan ceramah jika memang kita memang tak patut jadi juru ceramah karena itu semua hanya akan membuat jurang yang lebar antara kata dan perbuatan.

Harus kita ingat bahwa “anak polah bapa kepradah” (segala tingkah laku anak pasti akan membawa persolan baru untuk orang tua), begitu juga sebaliknya, “bapo polah anak kepradah”, tingkah laku orang tua juga akan menjadi kiblat sang anak bahkan bisa menjadikan anak-anak menjadi pembantah yang sejati.

” hai orang –orang yang beriman jaga lah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusai dan batu; pejaganya malikat-malikat yang kasar dan k eras, yang tidak mendurhakai kepada Allah terhadap apa yana Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( Q.S. AT Tahrim :6)

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogykata

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: