Beberapa Pokok Antropologi Sosial

14 04 2009

BEBERAPA POKOK ANTROPOLOGI SOSIAL

 

Resume ini disusun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah: Antropologi Pendidikan Islam

 

Dosen Pengampu :

Drs. Abdul Shomad,

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama               : Ahmad Ridlowi

N I M              : 06410060

Kelas   / Smt    : PAI 2 / VI

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2009

 

 

BEBERAPA POKOK ANTROPOLOGI SOSIAL

Prof. Dr. Koentjaraningrat

 

BAB II : PENDAHULUAN

 

Kedudukan antropologi sosial dalam rangka antropologi

Ilmu antropologi adalah ilmu yang mmpelajari manusia (anthropos), yang membahas :

a.       Sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis.

b.      Sejarah terjadinya aneka warna manusia dipandang dari ciri-ciri tubuhnya.

c.       Persebaran dan terjadinya aneka warna bahasa manusia di dunia.

d.      Perkembangan dan persebaran budaya manusia di dunia.

e.       Dasar-dasar kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari suku-suku bangsa yang tersebar di dunia, zaman sekarang ini.

 

Antropologi luas cakupannya, oleh karena itu dibagi lima : paleo-antropologi, antropologi fisik, etnolinguistik, prehistori, dan etnologi.

Paleo-antopologi, mempelajari asal usul manusia dengan menyelediki sisa-sisa tubuh yang telah membatu. Antropologi fisik, mempelajari sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari ciri-ciri tubuhnya. Etnolinguistik, bagian antropologi yang objek penyelidikannya berupa daftar-daftar kata-kata, pelukisan-pelukisan, tata bahasa lokal. Prehistori, mempelajari sejarah perkembangan manusia dalam zaman sebelum manusia mengenal huruf. Etnologi, mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku-suku yang tersebar di seluruh muka bumi pada masa sekarang ini.

 

Pokok-pokok dan pokok-pokok khusus dalam antropologi sosial

         Masalah penyelidikan : sekumpulan masalah yang menjadi lapangan-lapangan bagi para sarjana antropolog untuk memecahkannya.

         Objek penyelidikan : bahan-bahan yang konkret untuk memecahkan suatu masalah. Contoh : fosil ,bekas tubuh manusia, dll.

         Pokok-pokok etnologi : membicarakan kehidupan masyarakat dan kebudayaan suatu suku bangsa.

         Cultural universal sebagai isi kebudayaan, ada 7 yaitu :

1.      Sistem peralatan dan perlengkapan hidup,

2.      Sistem mata pencaharian hidup,

3.      Sistem kemasyarakatan,

4.      Bahasa,

5.      Kesenian,

6.      Sistem pengetahuan,

7.      Sistem religi.

 

BAB II : SISTEM MATA PENCAHARIAN HIDUP

 

Berburu dan Meramu

Berburu dan meramu merupakan dua sistim yang bersangkut paut. Berburu dan meramu sejak akhir abad ke-19 mulai menghilang dari muka bumi diganti dengan sistem bercocok tanam. Meskipun masih ada biasanya terdapat di tempat-tempat yang miskin atau sukar di muka bumi, seperti : Togo, Kamerun, Kongo.

Berburu dapat dilakukan dibermacam tempat seperti di daerah hutan rimba tropik (Togo, Kamerun, Kongo, pedalaman Malaya), hutan koniferus (Kanada barat laut), padang rumput / steppa (Amerika Utara dan Argentina), Gurun (Afrika Selatan dan Australia), daerah dengan iklim kutub (pantai utara Kanada dan pantai Greenland).

Untuk adat perkawinan ada dua macam; (1) patrilineal hunting band yaitu adat perkawinan yang mewajibkan orang kawin di luar kelompok (exogam). (2) Composite hunting band, yaitu adat perkawinan yang mewajibkan orang kawin di dalam kelompok (endogam).

Penguasaan dan hak milik terhadap wilayah ditentukan dengan batas yang tetap, yang tidak akan dilampaui dan yang akan dipertahankan terhadap pelanggaran-pelanggaran dari luar. Suatu composite band biasanya wilayah yang agak besar. Dalam composite band, biasanya kesadaran hak milik lebih jauh berkembang kalau dibandingkan dengan patrilineal band. Penyebabnya mungkin karena keanggotaan yang tercampur itu.

Senjata-senjata dan teknik berburu, meramu dan mencari ikan banyak macamnya. Diantaranya metode memotong (senjata tertua) untuk membunuh binatang, mengumpulkan buah-nuahan, akar-akaran, biji-bijian, dan tumbuhan lainnya. Senjata pukul juga untuk membunuh binatang buruan. Senjata lempar untuk membunuh binatang yang sulit didekati. Senjata tusuk serbaguna untuk berburu dan juga mencari ikan. Selain itu ada juga metode menangkap binatang dengan perangkap, meode menggiring binatang buruan (misalnya dengan bantuan anjing), dan metode pembunuhan dengan racun (suku bangsa pygmee di Kongo dan orang-orang Indian di daerah sungai Amazone Amerika Selatan).

Peramu sagu di pantai utara Irian Barat, disebelah barat Sukarnapura. Satu pohon sagu dewasa berumur 8 – 12 tahun ditebang, mkemudian dikuliti dan dipukul-pukul terasnya. Sagu biasanya dimakan sebagai bubur.

Bercocok Tanam

Bercocok tanam ditemukan kira-kira 10.000 tahun yang lalu dan tidak terjadi secara sekonyong-konyong, tetapi berangsur-angsur. Menurut N.I. Vavilov,bercocok tanam tidak ditemukan manusia di satu tempat. Beraneka macam daerah dan beraneka macam tanaman menyebabkan adanya beraneka warna cara-cara bercocok tanam di dunia.

Bercocok tanam di ladang (shifting cultivation / swidden agricultur) adalah salah satu cara bercocok tanam yang terutama ada di daerah hutan rimba tropik, sabana tropik, dan sub tripok. Caranya, suatu daerah di hutan atau sabana dibersihkan, ditanami satu sampai lima kali (1 – 3 tahun), kemudia dibiarkan selama kurang lebih 10 – 15 tahun untuk menjadi hutan kembali. Sesudah itu kemudian dibersihkan dan ditanami lagi.

 

BAB III : SISTEM KEKERABATAN

 

Menurut para ahli antropologi (J. Lubbock, J.J. Bachofen, J.F. McLennan, G.A. Wilken, dll) manusia itu pada mulanya hidup serupa sekawanan berkelompok dan laki-laki perempuan bersetubuh melahirkan keturunannya tanpa ikatan. Dalam penelitiannya, para antropolog mempergunakan perbandingan yang diambil dari kehidupan binatang berkelompok.

Adanya tingkat-tingkat sepanjang hidup individu (stages along the life-cycle) misalnya masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa remaja, pubertas, masa tua, dsb terjadi karena kesadaran umum diantara semua manusia, bahwa tiap tingkat yang baru sepanjang life-cycle itu membawa individu ke dalam suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan luas.

Salah satu tingkat yang paling penting dalam life-cycle ialah perkawinan. Perkawinan didalam sebagian besar masyarakat manusia tidak semata-mata berhenti kepada fungsi pokoknya saja (persetubuhan), tetapi mempunyai akibat yang lebih luas bagi yang berkepentingan, seperti pengaturan hak dan kewajiban terhadap hasil keturunannya. Dan dalam adat menetap sesudah nikah / kawin, ada paling sedikit tujuh kemungkinan yaitu, adat utrolokal (kebebasan memilih tempat tinggal), virilokal (menetap dikediaman suami), uxorilokal (menetap dikediaman isteri), bilokal (tinggal berganti-ganti), neolokal (menetap sendiri ditempat yang baru), avunkulokal (kediaman saudara laki-laki ibu), dan natolokal (masing-masing terpisah di tempat kerabatnya sendiri-sendiri).

Mereka yang telah menikah akan berumah tangga (household) dan terjadi suatu kelompok kekerabatan (kingroup) yang disebut keluarga batih atau keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari sepasang suami isteri dan anak-anak mereka yang belum kawin. Rumah tangga berbeda dengan keluarga batih. Rumah tangga bisa lebih besar dan lebih kecil dari keluarga batih. Gejala yang banyak terjadi di dunia ialah adanya keluarga batih yang tidak lengkap, tetapi berfungsi sendiri. Dalam istilah antropologi dinamakan matrifokal. Contohnya dalam kasta Nayar ( kasta prajurit) di negara Cochin, didaerah Malabar India Selatan.

Ada tiga kategori Kelompok Kekerabatan (KK) yaitu KK berkorporasi (corporate kingroup), KK kadang kala (occasional kingroup), dan KK menurut adat (circumscriptive kingroup). Kelompok kekerabatan lain : Kindred, Keluarga luas, Keluarga-ambilineal kecil, keluarga ambilineal besar, klan kecil, klan besar, fratri, paroh masyarakat.

Prinsip keturunan ada 4 macam yaitu patrilineal, matrilineal, bilineal, dan bilateral (bilateral descent). Prinsip tambahan pada prinsip bilateral yaitu ambilineal, konsentris, promogenitur, dan ultimogenitur.

Sopan santun pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat berbeda-beda. Sikap menghormat dan bebas hanya ada dua macam yaitu sikap sopan (avoidance relationship) dan sikap suka bergurau (joking relationship). Sikap sungkan misalnya pantangan memandang muka dan pantang berbicara secara langsung.

 

BAB IV : KESATUAN HIDUP SETEMPAT

 

Kesatuan hidup (community) pertama-tama tidak terjadi karena ada ikatan kekerabatan, tetapi karena ikatan tempat kehidupan. Bentuk komunitas ada banyak; komunitas besar (kota, negara bagian, ,negara, persekutuan negara-negara, dll), komunitas kecil seperti band (kelompok berburu yang berpindah-pindah), desa, rukun tetangga, dan sebagainya. Kelompok kecil ialah kelompok yang warganya masih bisa saling mengenal, tidak ada aneka warna yang besar, dan dapat menghidupi sebagian besar dari lapangan-lapangan kehidupannya secara bulat.

Solidaritas dalam masyarakat kecil terjadi karena adanya prinsip timbal balik sebagai penggerak masyarakat yang disebabkan karena adanya rasa saling tolong menolong yang besar. Tolong menolong banyak macammnya, seperti tolong menolong dalam aktivitas pertanian, sekitar rumah tangga, persiapan pesta dan upacara, peristiea kecelakaan, bencana, kematian, dll.

Gotong royong merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam kehidupan sosial. Jiwa gotong royong tidak membutuhkan keahlian atau spesialisasi khusus. Semangat gotong royong merupakan sikap yang mengandung pengertian terhadap kebutuhan sesama warga masyarakat. Salah satu extensi dari jiwa gotong royong ialah musyawarah, yaitu suatu unsur sosial yang ada dalam banyak masyarakat pedesaan di dunia dan juga di Indonesia.

Pelapisan sosial muncul karena adanya pembedaan kedudukan dan derajat terhadap individu. Dan pembedaan tersebut tidaklah sama, ada yang berupa kekuasaan, kekayaan, kepandaian, dan sebagainya. Adanya perbedaan yang amat mencolok dalam suatu tingkat pelapisan sosial dinamakan social classes atau sosial takresmi. Penilaian tentang tinggi rendai suatu lapisan sosial takresmi oleh tiap warga tidaklah sama. Ada juga masyarakat yang lapisan dan kelas sosial itu sudah menjadi tegas, karena warga dari suatu lapisan atau kelas itu mendapat sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terbeku ke dalam adat yang dilindungi oleh hukum adat atau hukum yang berlaku.

Alasan-alasan untuk susunan berlapis dapat dilihat melalui: kualitas dan kepandaian, tingkat umur yang senior, sifat keaslian, keanggotaan kaum kerabat kepala masyarakat, sifat pengaruh dan kekuasaan, pangkat, dan kekayaan harta benda.

Sistem kasta, merupakan suatu sistem pelapisan yang memiliki ciri-ciri antara lain :

a.       Keanggotaan kasta berdasarkan kelahiran.

b.      Perkawinan dengan orang dari luar kasta dilarang.

c.       Pergaulan dengan kasta-kasta lebih rendah terlarang keras dengan pentangan-pantangan yang berdasarkan hukum atau agama.

Sistem pelapisan sosial di Bali terbagi ke dalam empat lapisan yaitu Brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Adapun tiga lapisan pertama disebut menjadi satu dengan istilah triwangsa dan jabawangsa untuk lapisan keempat. Walau tidak memisahkan golongan, namun gelar adalah amat penting dalam sopan santun pergaulan.

Pimpinan masyarakat; bisa merupakan suatu kedudukan sosial, tetapi juga suatu proses sosial. Seorang pemimpin membutuhkan dua unsur yang penting, yaitu kekuasaan (power), dan wibawa (authority). Pemimpin yang memberi kepopuleran hanya mempunyai sifat yang disenangi orang. Pemimpin yang memberi kekuasaan mempunyai sifat yang dicita-citakan orang, sifat yang dianggap keahlian, kemampuan mempergunakan kekuatan, dan sifat yang sesuai dengan norma umum. Dan pemimpin yang memberi kewibawaan memiliki sifat pimpinan menurut adat yang resmi.

Sistem pengendalian sosial; berupa adat, yang dalam prakteknya berupa cita-cita, norma, pendirian, kepercayaan, sikap, aturan-aturan, hukum, undang-undang, dan sebagainya. Cara pengendalian sosial :

  1. Mempertebal keyakinan masyarakat akan kebaikanadat istiadat.
  2. Memberi ganjaran kepada masyarakat yang biasanya taat kepada adat istiadat.
  3. Mengembangkan rasa malu dalam masyarakat yang menyeleweng dari adat istiadat.
  4. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa masyarakat yang handak menyeleweng dari adat istiadat dengan ancaman dan kekerasan.

 

BAB V : SISTEM RELIGI DAN ILMU GAIB

 

Teori terpenting tentang asal mula dan inti religi yaitu :

  1. Manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa.
  2. Mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya.
  3. Bermaksud untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka waktu hidup manusia.
  4. Manusia kagum akan adanya gejala dan kejadian luar biasa dalam hidupnya dan alam sekelilingnya.
  5. emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakatnya.
  6. Manusia mendapat firman dari Tuhan.

Teori jiwa è Faham jiwa disebabkan karena dua hal; (1) Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. (2) Peristiwa mimpi.

Teori batas akal è makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal. Menurut Frazer ada perbedaan antara magic dan religion. Magic adalah perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan kekuatan gaib didalam alam. Sedangkan religion adalah perbuatan manusia untuk suatu maksud dengan menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk halus seperti ruh, dewa, dan sebagainya.

Teori masa kritis dalam hidup individu è Ketika mengalami masa kritis dalam hidup, manusia butuh perbuatan untuk memperteguh iman dan menguatkan dirinya. Dan hal itu merupakan pangkal dari religi dan bentuk religi yang tertua.

Teori kekuatan luas biasa (Marett) è Kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal, peristiwa yang luar biasa, yang kemudian dianggap Marett sebagai suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk-makhluk halus dan ruh-ruh.

Unsur-unsur dasar religi; ada empat yaitu :

a.     Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia berlaku religi.

b.    Sistem kepercayaan atau bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, hidup, dsb.

c.     Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib berdasarkan atas sistem kepercayaan tersebut.

d.    Kelompok keagamaan atau kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta sistem upacara keagamaan.

Sedangkan bentuk religi ada delapan juga, yaitu fetishism, animism, animatism, prae-animism, totemism, polytheism, monotheism, dan mystic.

Ilmu gaib

Dasar-dasar ilmu gaib ialah (a) kepercayaan kepada kekuatan sakti, dan (b) hubungan sebab-akibat menurut hubungan asosiasi.

Contoh perbuatan yang mempercayai kekuatan sakti (gaib) ialah membasmi penyakit dengan jimat.

Macam magic menurut teknik dan uacaranya yaitu imitative magic dan contagious magic. Imitative magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang meniru keadaan sebenarnya yang hendak dicapai. Contoh : upacara minta hujan dengan cara menyiram dukunnya dengan air. Contagious magic meliputi semua perbuatan ilmu gaib yang berdasarkan pendirian bahwa suatu hal itu bisa menyebabkan hal lain yang ada hubungannya yang lahir. Contoh : pemakaian katak untuk mendatangkan hujan, menusuk gambar orang agar orang tersebut sakit.

Fungsi upacara ilmu gaib : (1) ilmu gaib produktif, (2) ilmu gaib penolak, (3) ilmu gaib agresif (guna-guna), dan (4) ilmu gaib meramal.

Hubungan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ilmu gaib yaitu : pada ilmu pengetahuan dan teknologi orang berusaha dengan akalnya, pada ilmu gaib orang berusaha dengan cara-cara gaib, tetapi pada religi orang berusaha dengan menundukkan diri dan menyerahkan diri kepada yang gaib.

 

-oOo-

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: