Iklan

10 05 2015

Banner-Iklan-Pulsa





APAKAH PENDIDIKAN PERLU FILSAFAT ?

31 12 2009

Mitos Pendidikan Ideal versus Klaim Keragaman Bentuk Pendidikan
Dunia pendidikan bisa dibilang merupakan praktek kemasyarakatan yang paling menentukan struktur kebudayaan bahkan peradaban manusia. Setelah religi dan sistem kekerabatan, pendidikan menjadi salah satu pilar utama kebudayaan manusia. Berkelindan dengan aspek-aspek kebudayaan lain dalam masyarakat, pendidikan relatif mewarnai struktur kemasyarakatan dan karakter kebudayaan mereka. Tidak mengherankan, apabila muncul klaim bahwa setiap peradaban besar yang pernah muncul di dunia ini selalu bermula dari kemapanan pola pendidikan mereka, apapun itu bentuknya. Yah setiap masyarakat memiliki karakter kebudayaan sendiri, dan pendidikanlah yang mensosialisasikan kebudayaan tersebut kepada elemen-elemen masyarakat, bahkan melakukan komunikasi antar generasi ke generasi berikutnya. Fungsi sosialisasi dan transmisi antar generasi ini telah membuat pendidikan menjadi salah satu pilar utama kebudayaan manusia, di samping fungsi lain yang nanti akan kita bahas.
Konsekuensi dari klaim di atas kiranya membutuhkan pengakuan terbalik, bahwa setiap masyarakat, bangsa ataupun periode kebudayaan pastilah memiliki pola pendidikan yang khas. Unsur ke-khas-an pendidikan memperkuat asumsi bahwa pendidikan pada awalnya merupakan sepenuhnya milik masyarakat (people), sekalipun perjalanan sejarah mencatat bahwa pendidikan terkadang terpelanting ke genggaman rezim kekuasaan tertentu atau berpihak pada anasir pasar tertentu. Asumsi ini tentu saja mengandaikan bahwa di dalam masyarakat terdapat bermacam aneka ragam cara belajar dan pola-pola khas yang bermanfaat memberikan dukungan terhadap proses belajar masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya, tidak ada satu sistem pendidikan pun di dunia ini, yang cocok untuk semua bangsa di dunia ini. Sebaliknya, sistem pendidikan yang kini dominan sekalipun, yakni persekolahan, pada saatnya diterapkan secara mengglobal, maka persekolahan tersebut bisa dipastikan akan memberikan efek yang berbeda kepada masing-masing bangsa di dunia ini.
Dalam beberapa hal, pendidikan lebih menunjukkan kekhasan yang lebih spesifik yakni gejala yang bersifat situasional atau malah kasuistis. Anak-anak yang sedang tumbuh berkembang dalam gaya dan kecepatan belajar yang berbeda. Dengan mudah pula, orang menunjuk faktor keluarga sebagai pemicu temperamen dan minat yang berbeda dalam menanamkan nilai dan aspirasi tertentu melalui pendidikan. Dengan demikian, pada kalangan masyarakat yang berbeda, pendidikan juga akan mengalami perbedaan dalam hal karakteristik sosial dan ekonomi. Ditambah lagi, dari waktu ke waktu, tak ada sistem pendidikan dalam masyarakat yang benar-benar ajeg dan beku. Ke-khasan pendidikan lantaran sifatnya yang situasional dan kasuistis ini sepatutnya semakin memberikan kelonggaran masyarakat dan keluarga memilih cara belajar yang sanggup membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Sebagian pakar segera menemukan kaitan antara budaya, masyarakat dan pendidikan. Di antaranya meyakini bahwa pendidikan mencerminkan kualitas kebudayaan suatu masyarakat. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan pendidikan untuk mempertahankan atau justru memperbaiki struktur tatanan sosial mereka. Contoh yang mengilustrasikan keterkaitan tersebut, misalnya bangsa Sparta yang memiliki karakter sebagai bangsa petarung telah menciptakan semacam pola pendidikan yang berorientasi pada ketangkasan tubuh. Sedang bangsa Athena yang menaruh minat yang tinggi terhadap aktivitas seni dan pemikiran bebas mengembangkan pola pendidikan yang lebih transformatif bagi warga polisnya. Sederetan catatan sejarah di masa lalu bisa dipercontohkan untuk melengkapi kedua contoh di atas.
Budaya, masyarakat dan pendidikan serta merta menjadi untaian kalimat-kalimat ‘megah’ yang terkadang menjauh dari unsur terkecilnya. Pengertian yang ditimbulkannya segera mencengkeram kita dalam kategori yang ekstra-perfasive, meluas dan nyaris tanpa batas kecuali dengan menggeser sudut pandang dan kacamata peninjaunya.





Dari Hermeneutika untuk Pendidikan kita?

31 12 2009

( Rangkuman )

A. Mengenal Metode Hermeneutika

Hermeneutika, secara umum dapat didefinisikan sebagai teori atau filsafat tentang interpretasi (tafsiran) makna. Kata hermeneutika itu sendiri berasal dari kata kerja bahasa Yunani, hermeneuin, yang berarti menafsirkan. Kata bendanya hermeneia. Akar kata itu dekat dengan nama dewa Yunani yakni Dewa Hermes yang menjadi utusan atau pembawa pesan para dewa. Dewa Hermes berperan mengubah apa yang di luar pengertian manusia ke dalam bentuk yang dimengerti manusia. Peranan semacam itulah yang kurang lebih mau dilakukan oleh para ahli tafsir Kitab Suci.
Pada abad pertengahan terjadi perpindahan lapangan penafsiran teks dari humeira (injil Yunani) ke penafsiran injil-injil Romawi. Para penafsir juga mulai meletakkan pedoman-pedoman, kaidah-kidah unuk memahami kitab suci, yaitu berpegang pada tekstualitas, tujuan moral dan kandungan arti spiritual. Augustin membagi arti-arti yang dicari oleh para penafsir dari kitab suci menjadi 4 yaitu arti tekstual, tujuan moral, arti simbolik dan penafsiran yang tersembunyi. Dan ketika Martin Luther menampilakn corak penafsiran barunya dalam gerakan reformasi agama bermuncullah karya-karya seputar kaidah-kaidah penfsiran. Pada tahun 1654 mulai muncul karya yang menyebut kata hermeneutika yaitu Hermeneutika sacra sive Methodus exponent darum sacarum literum (penafsiran kitab suci atau metode penjelasan teks-teks kitab suci) karya Dannhauuer. Dan pada abad XVIII corak penafsiran kitab suci bertumpu pada filologi.
Pada masa modern, hermeneutika dipelopori oleh Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Tokoh teolog Protestan ini dikenal sebagai Bapak Hermeneutika Modern yang pertama kali berusaha membakukan hermeneutika sebagai metode umum interpretasi yang tidak terbatas pada interpretasi kitab suci atau kitab sastera. Kemudian Dilthey (w. 1911) menerapkannya sebagai metode sejarah, lalu Hans-Georg Gadamer (1900- ) mengembangkannya menjadi ‘filsafat’, Paul Ricoeur menjadikannya sebagai ‘metode penafsiran fenomenologis-komprehensif’. Selain itu para filosof seperti Jurgen Habermas, Jacques Derrida, dan Michael Foucault, mengembangkan sebentuk “kritik hermeneutik”, yaitu analisis atas proses pemahaman manusia yang sering terjebak dalam otoritarianisme, khususnya karena tercampurnya determinasi sosial-budaya-psikologis dalam kegiatan memahami sesuatu (Faiz, 2005).

B. Variasi Hermeneutika menurut Lefevere
Lefevere (1977: 46-47) memandang bahwa ada tiga varian hermeneutika yang pokok. Ketiga varian yang dimaksudkan Lefevere adalah: pertama, hermeneutika tradisional (romantik); kedua, hermeneutika dialektik; dan ketiga, hermeneutika ontologis. Perlu dikemukakan, di satu sisi, ketiga varian itu sepakat dengan pendefinisian sastra sebagai objektivisasi jiwa manusia, yang pada dasarnya bisa diamati, dijelaskan, dan dipahami (verstehen). Di sisi lain, ketiga varian hermeneutika itu berbeda dalam menginterpretasi verstehen-nya. Untuk itu, selanjutnya perlu dijelaskan bagaimana ketiga varian hermeneutika itu dalam kerangka kajian sastra, mulai hermeneutika tradisional, dialektik, hingga ontologis.
1. Hermeneutika Tradisional
Refleksi kritis mengenai hermeneutika mula-mula dirintis oleh Friedrich Schleiermacher, kemudian dilanjutkan Wilhelm Dilthey. Hermeneutika yang mereka kembangkan kemudian dikenal dengan “hermeneutika tradisional” atau “romantik”. Mereka berpandangan, proses versetehen mental melalui suatu pemikiran yang aktif, merespons pesan dari pikiran yang lain dengan bentuk-bentuk yang berisikan makna tertentu (Lefevere, 1997: 47). Pada konteks ini dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan teks, Schleiermacher lebih menekankan pada “pemahaman pengalaman pengarang” atau bersifat psikologis, sedangkan Dilthey menekankan pada “ekspresi kehidupan batin” atau makna peristiwa-peristiwa sejarah. Apabila dicermati, keduanya dapat dikatakan memahami hermeneutika sebagai penafsiran reproduktif. Namun, pandangan mereka ini diragukan oleh Lefevere (1977: 47) karena dipandang sangat sulit dimengerti bagaimana proses ini dapat diuji secara inter-subjektif. Keraguannya ini agaknya didukung oleh pandangan Valdes (1987: 58) yang menganggap proses seperti itu serupa dengan teori histori yang didasarkan pada penjelasan teks menurut konteks pada waktu teks tersebut disusun dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang definitif.
Jika diapresisasi secara lebih jauh, Lefevere tampak juga ingin menyatakan adanya cara-cara pemahaman yang berbeda pada ilmu-ilmu alam (naturwissen schaften). Baginya, ilmu-ilmu alam lebih mendekati objeknya dalam erklaren (2), dan ilmu-ilmu sosial serta humanistis (geisteswissenschaften) lebih mendekati objeknya dengan versetehen. Selain itu, perlu dikatakan bahwa cara kerja ilmu-ilmu alam lebih banyak menggunakan positivisme logis dan kurang menggunakan hermeneutika. Cara semacam itu tentu saja sangat sulit diterapkan pada ilmu-ilmu sosial dan humaniora (1977: 48), apalagi secara spesifik dalam karya sastra karena menurut Eagleton (1983) “dunia” karya sastra bukanlah suatu kenyataan yang objektif, tetapi Lebenswelt (bahasa Jerman), yakni kenyataan seperti yang sebenarnya tersusun dan dialami oleh seorang subjek.
Menurut Lefevere, varian hermeneutika tradisional ini juga menganut pemahaman yang salah tentang penciptaan. Varian ini agaknya cenderung mengabaikan kenyataan bahwa antara pengamat dan penafsir (pembaca) tidak akan terjadi penafsiran yang sama karena pengalaman atau latar belakang masing-masing tidak pernah sama. Dengan demikian, teranglah di sini bahwa varian ini tidak mempertimbangkan audience (pembacanya). Peran subjek pembaca sebagai pemberi respon dan makna diabaikan (1977: 47-48); Eagleton, 1983: 59; Valdes, 1987: 57; Madison, 1988: 41). Yang jelas, varian ini terlalu berasumsi bahwa semua pembaca memiliki pengetahuan dan penafsiran yang sama terhadap apa yang diungkapkan.
Kelemahan yang ditampakkan dalam varian hermeneutika tradisional, sebagaimana diungkapkan oleh Lefevere, karena berpegang pada cara berpikir kaum positivis yang menganggap hermeneutika (khususnya versetehen) hanya “menghidupkan kembali” (mereproduksi). Sejalan dengan Betti, Lefevere membenarkan bahwa interpretasi tidak mungkin identik dengan penghidupan kembali, melainkan identik dengan rekonstruksi struktur-struktur yang sudah objektif, dan perbedaan interpretasi merupakan suatu hal yang dapat terjadi. Maksudnya, penafsir dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim menurut pesan yang dmunculkan oleh objek tersebut kepadanya (Lefevere, 1977: 49). Hal ini menurut Lefevere merupakan soal penting yang harus dilakukan dalam penafsiran teks sastra.
2. Hermeneutika Dialektik
Varian hermeneutika dialektik ini sebenarnya dirumuskan oleh Karl Otto Apel. Ia mendefinisikan versetehen tingkah laku manusia sebagai suatu yang dipertentangkan dengan penjelasan berbagai kejadian alam. Apel mengatakan bahwa interpretasi tingkah laku harus dapat dipahami dan diverifikasi secara intersubjektif dalam konteks kehidupan yang merupakan permainan bahasa (Lefevere, 1977: 49).
Sehubungan dengan hal itu, lebih jauh Lefevere (1977: 49) menilai bahwa secara keseluruhan hermeneutika dialektik yang dirumuskan Apel sebenarnya cenderung mengintegrasikan berbagai komponen yang tidak berhubungan dengan hermeneutika itu sendiri secara tradisional. Apel tampakanya mencoba memadukan antara penjelasan (erklaren) dan pemahaman (verstehen); keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat memahami sesuatu (verstehen) tanpa pengetahuan faktual secara potensial.
Dengan demikian, pandangan Apel tersebut sebenarnya mengandung dualitas. Di satu sisi, tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial. Di sisi lain, sekaligus tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial tanpa pemahaman intersubjektif. Dalam hal ini teranglah bahwa “penjelasan” dan pemahaman” dibutuhkan, baik pada ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (geistewissenschaften) maupun ilmu-ilmu alam (naturwissen-shacften) (Lefevere, 1977: 49). Pandangan Apel itu dapat dinilai sebagai pikiran modern, karena dia mencoa mempertemukan kedua kutub tersebut sebagaimana yang juga diakui oleh Madison (1988: 40). Secara umum, soal ini dipertimbangkan sebagai masalah dalam filsafat ilmu (filsafat pengetahuan). Masalah inilah yang banyak dikupas secara panjang lebar oleh Madison. Dia mengungkapkan bagaimana pandangan Apel dan sumbangan Husserl. Pada intinya, Madison menyatakan bahwa penjelasan bukanlah sesuatu yang berlawanan dengan pemahaman (1988: 47-48). Selanjutnya, dalam sudut pandang hermeneutika, Madison mengatakan bahwa penjelasan bukanlah suatu yang secara murni atau semata-mata berlawanan dengan pemahaman, dan bukan pula merupakan suatu yang bisa menggantikan pemahaman secara keseluruhan. Penjelasan lebih merupakan tatanan penting dan sah dalam pemahaman yang tujuan akhirnya adalah pemahaman diri (Madison, 1988: 49).
Inti varian hermeneutika dialektik tersebut-yang tidak mempertentangkan “penjelasan” dengan “pemahaman”-sejalan dengan pandangan Valdes. Dalam pandangannya, bagaimana ia menganggap penting “penjelasan” dan “pemahaman” untuk menjelaskan prinsip interpretasi dalam beberapa teori utamanya, yakni teori historis, formalis, hermeneutika filosofis, dan poststrukturalis atau dekonstruksi (1987: 57-59).
Dalam varian hermeneutika dialektik ini, definisi verstehen yang dikemukakan Apel mengimplikasikan pengertian bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan ilmuwan. Jika ilmuwan mencoba memahami fenomena tertentu, ia akan menghubungkan dengan latar belakang aturan-atuaran yang diverifikasi secara intersubjektif sebagaimana yang dikodifikasi pada hukum-hukum dan teori-teori. Pengalaman laboratorium pun turut mempengaruhi ilmuwan dalam memahami apa saja yang tengah ditelitinya. Dengan demikian, jelaslah bahwa verstehen pada dasarnya berfungsi untuk memahami objek kajiannya.
Dalam hubungan itu, Gadamer (Lefevere, 1977: 50) mengatakan bahwa semua yang mencirikan situasi penetapan dan pemahaman dalam suatu percakapan memerlukan hermeneutika. Begitu pun ketika dilakukan pemahaman terhadap teks. Namun, dalam hal ini menarik jika mencermati pandangan Lefevere. Ia menyatakan bahwa suatu pemahaman yang hanya berdasar pada analogi-analogi dan metafor-metafor dapat menimbulkan kesenjangan. Atas dasar itulah Lefevere berpandangan bahwa verstehen tidak dapat dipakai sebagai metode untuk mendekati sastra secara tuntas. Pandangannya ini dapat dimaklumi, mengingat dalam memahami sastra, pemahaman tidak dapat dilakukan hanya dengan berpijak pada teks semata, tetapi seharusnya juga konteks dan subjek penganalisisnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa realitas teks adalah realitas yang sangat kompleks yang tidak cukup dipahami dalam dirinya sendiri.
3. Hermeneutika Ontologis
Varian yang terakhir adalah hermeneutika ontologis. Aliran hermeneutika ini digagas oleh Hans-Georg Gadamer. Dalam mengemukakan deskripsinya, ia bertolak dari pemikiran filosof Martin Heidegger. Sebagai penulis kontemporer dalam bidang hermeneutika yang sangat terkemuka, Gadamer tidak lagi memandang konsep verstehen sebagai konsep metodologis, melainkan memandang verstehen sebagai pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis.
Verstehen, menurut Gadamer, merupakan jalan keberadaan kehidupan manusia itu sendiri yang asli. Varian hermeneutika ini menganggap dirinya bebas dari hambatan-hambatan konsep ilmiah yang bersifar ontologis (Lefevere, 1977: 50). Dalam hal ini, agaknya Gadamer menolak konsep hemeneutika sebagai metode. Kendatipun menurutnya hermeneutika adalah pemahaman, dia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis.
Dalam sudut pandang Gadamer, masalah hermeneutika merupakan masalah aplikasi yang berhenti pada semua verstehen. Kendatipun memperlihatkan kemajuan pandang yang luar biasa, pandangan Gadamer juga masih tidak lepas dari kritikan yang diajukan Lefevere. Lefevere (1977: 50) menganggap bahwa varian ketiga ini masih mencampuradukkan kritik dengan interpretasi. Dalam hal ini Lefevere sepertinya menganggap perlu menentukan batas kritik dengan interpretasi. Bagi Lefevere, dalam varian ini tampak Gadamer lebih mementingkan “rekreasi”. Maksudnya, ia tidak memandang proses pemahaman makna terhadap teks itu sebagai jalan “reproduktif”, tetapi sebagai jalan “produktif”.
Berbeda halnya dengan apresiasi Lefevere, Valdes justru melihat bahwa apa yang dikembangkan Gadamer dalam Hermenetika filosofis itu dianggap menjadi basis kritik sastra yang lebih memuaskan. Dialektika dari hermeneutika filosofis dipandang merupakan inti yang menyatukan semua kelompok teori yang dilontarkan oleh para pemikir yang berbeda-beda, seperti Gadamer, Habermas, dan Ricoeur (1987: 59)
Konsep hermeneutika ontologis Gadamer, yang bertitik tolak pada teks, didukung sepenuhnya dalam kata-kata Ricoeur. Ia menyatakan bahwa teks merupakan sesuatu yang bernilai, jauh melebihi sebuah kasus tertentu dari komunikasi intersubjektif. Teks memainkan sebuah karakteristik yang fundamental dari satu-satunya historisitas pengalaman manusia, yakni teks merupakan komunikasi dalam dan melalui jarak (Valdes, 1987: 61-62; Madison, 1988: 45). Oleh karena itu, tampak di sini Gadamer mengikuti filsafat Heidegger yang berusaha mencari hubungan dengan fenomena. Dengan demikian, dalam varian ini Gadamer mengembalikan peran subjek pembaca selaku pemberi makna-yang hal ini dinaifkan dalam hermeneutika tradisional.

C. Apa yg bisa disumbangkan hermeneutika untuk Pendidikan ?

Dengan mempertimbangkan variasi hermeneutika di atas, maka secara umum, ada 3 tujuan hermeneutika yang bisa dikembangkan untuk mengkritisi proses dan teori pendidikan.
1. Hermeneutika sebagai cara untuk memahami,
2. Hermeneutika sebagai cara untuk memahami suatu pemahaman,
3. Hermeneutika sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman.

Dalam perspektif pendekatan hermeneutik, variabel pemahaman manusia sedikitnya melibatkan 3 unsur:
1. Unsur pengarang (author).
2. Unsur teks (text).
3. Unsur pembaca (reader).

Ke-3 elemen pokok inilah yang dalam study hermeneutika disebut Triadic Structure.

Hermeneutika, sebagaimana disebut di atas, pada dasarnya merupakan suatu metode penafsiran yang berangkat dari analisis bahasa dan kemudian melangkah ke analisis konteks, untuk kemudian “menarik” makna yang didapat ke dalam ruang dan waktu saat proses pemahaman dan penafsiran tersebut dilakukan.

Jika pendekatan hermeneutika ini dipertemukan dengan kajian teks kitab suci, maka persoalan dan tema pokok yang dihadapi adalah bagaimana teks teks kitab suci tsb hadir di tengah masyarakat, lalu dipahami, ditafsirkan, diterjemahkan, dan di-dialog-kan dengan dinamika realitas historisnya.

Metode hermeneutika pada dasarnya dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan interpretasi terhadap kitab suci hindu, budha, yahudi, kristen, islam, dll karena kesemua kitab suci tersebut memiliki unsur-unsur yang sama yaitu : pengarang, teks, dan pembaca.

Dengan menguasai metode hermeneutika, diharapkan setiap pembaca (reader)dapat menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam teks (text) secara utuh sebagaimana yang diharapkan oleh penulis (author)





APAKAH PENDIDIKAN PERLU FILSAFAT ?

31 12 2009

Mitos Pendidikan Ideal versus Klaim Keragaman Bentuk Pendidikan
Dunia pendidikan bisa dibilang merupakan praktek kemasyarakatan yang paling menentukan struktur kebudayaan bahkan peradaban manusia. Setelah religi dan sistem kekerabatan, pendidikan menjadi salah satu pilar utama kebudayaan manusia. Berkelindan dengan aspek-aspek kebudayaan lain dalam masyarakat, pendidikan relatif mewarnai struktur kemasyarakatan dan karakter kebudayaan mereka. Tidak mengherankan, apabila muncul klaim bahwa setiap peradaban besar yang pernah muncul di dunia ini selalu bermula dari kemapanan pola pendidikan mereka, apapun itu bentuknya. Yah setiap masyarakat memiliki karakter kebudayaan sendiri, dan pendidikanlah yang mensosialisasikan kebudayaan tersebut kepada elemen-elemen masyarakat, bahkan melakukan komunikasi antar generasi ke generasi berikutnya. Fungsi sosialisasi dan transmisi antar generasi ini telah membuat pendidikan menjadi salah satu pilar utama kebudayaan manusia, di samping fungsi lain yang nanti akan kita bahas.
Konsekuensi dari klaim di atas kiranya membutuhkan pengakuan terbalik, bahwa setiap masyarakat, bangsa ataupun periode kebudayaan pastilah memiliki pola pendidikan yang khas. Unsur ke-khas-an pendidikan memperkuat asumsi bahwa pendidikan pada awalnya merupakan sepenuhnya milik masyarakat (people), sekalipun perjalanan sejarah mencatat bahwa pendidikan terkadang terpelanting ke genggaman rezim kekuasaan tertentu atau berpihak pada anasir pasar tertentu. Asumsi ini tentu saja mengandaikan bahwa di dalam masyarakat terdapat bermacam aneka ragam cara belajar dan pola-pola khas yang bermanfaat memberikan dukungan terhadap proses belajar masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya, tidak ada satu sistem pendidikan pun di dunia ini, yang cocok untuk semua bangsa di dunia ini. Sebaliknya, sistem pendidikan yang kini dominan sekalipun, yakni persekolahan, pada saatnya diterapkan secara mengglobal, maka persekolahan tersebut bisa dipastikan akan memberikan efek yang berbeda kepada masing-masing bangsa di dunia ini.
Dalam beberapa hal, pendidikan lebih menunjukkan kekhasan yang lebih spesifik yakni gejala yang bersifat situasional atau malah kasuistis. Anak-anak yang sedang tumbuh berkembang dalam gaya dan kecepatan belajar yang berbeda. Dengan mudah pula, orang menunjuk faktor keluarga sebagai pemicu temperamen dan minat yang berbeda dalam menanamkan nilai dan aspirasi tertentu melalui pendidikan. Dengan demikian, pada kalangan masyarakat yang berbeda, pendidikan juga akan mengalami perbedaan dalam hal karakteristik sosial dan ekonomi. Ditambah lagi, dari waktu ke waktu, tak ada sistem pendidikan dalam masyarakat yang benar-benar ajeg dan beku. Ke-khasan pendidikan lantaran sifatnya yang situasional dan kasuistis ini sepatutnya semakin memberikan kelonggaran masyarakat dan keluarga memilih cara belajar yang sanggup membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Sebagian pakar segera menemukan kaitan antara budaya, masyarakat dan pendidikan. Di antaranya meyakini bahwa pendidikan mencerminkan kualitas kebudayaan suatu masyarakat. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan pendidikan untuk mempertahankan atau justru memperbaiki struktur tatanan sosial mereka. Contoh yang mengilustrasikan keterkaitan tersebut, misalnya bangsa Sparta yang memiliki karakter sebagai bangsa petarung telah menciptakan semacam pola pendidikan yang berorientasi pada ketangkasan tubuh. Sedang bangsa Athena yang menaruh minat yang tinggi terhadap aktivitas seni dan pemikiran bebas mengembangkan pola pendidikan yang lebih transformatif bagi warga polisnya. Sederetan catatan sejarah di masa lalu bisa dipercontohkan untuk melengkapi kedua contoh di atas.
Budaya, masyarakat dan pendidikan serta merta menjadi untaian kalimat-kalimat ‘megah’ yang terkadang menjauh dari unsur terkecilnya. Pengertian yang ditimbulkannya segera mencengkeram kita dalam kategori yang ekstra-perfasive, meluas dan nyaris tanpa batas kecuali dengan menggeser sudut pandang dan kacamata peninjaunya.





Agama dan Penyakit Jiwa Masyarakat

8 06 2009

Menyimak berita yang berkembang akhir-akhir ini hanya membuat hati kita merasa “miris” dan “trenyuh”. Bagaimana tidak! Semua berita yang kita terima tak lebih sebuah informasi yang tidak bergizi sekaligus tak menyehatkan mental masyarakat. Tetapi, berita yang kita terima adalah realita, yang disajikan bukanlah hal yang mengada-ada, merupakan potret perilaku masyarakat yang ada dilapangan.

Kasus pembunuhan, mutilasi, korupsi, perselingkuhan, penggelapan dana bantuan adalah penyakit jiwa masyarakat yang merebak di tengah-tengah kondisi sosial masyarakat yang carut marut. Seakan-akan pelaku kejahatan tersebut tdak lagi mempunyai sikap empati terhadap nasib sesama. Masyarakat lemah ditempatkan sebagai mangsa yang harus diterkam. Kalau kita cermati, perbuatan tersebut ujung ujungnya tidak lain adalah harta benda, bilamana nafsu duniawiyah dituruti tidak akan menemukan ujungnya, “meskipun manusia sudah memiliki lembah emas, dia (manusia) masih ingin memiliki satu lembah emas lagi”, begitulah sabda Rosulullah S.A.W.

Masyarakat dewasa ini memang sedang dilanda sakit jiwa, mulai dari kalangan atas sampai strata masyarakat bawah ( grass root). Kondisi jiwa yang sakit ini tidak akan sembuh jika tidak ada kesadaran, dan inilah yang menjadi sinyal keadaan masyarakat bahwa masyarakat cenderung menjadi masyarakat yang resistan terhadap nasehat. Banyak nasehat maupun efek jera yang diterapkan oleh pemerintah baik melalui slogan (tulisan) maupun hukuman yang diekspose di media massa ternyata tak mempan untuk membunuh virus penyakit jiwa, malah sebaliknya, penyakit jiwa semakin merebak dengan format yang rapi.

Menurut hemat penulis, perilaku asusila masyarakat tidak lain disebabkan oleh hilangnya sikap malu mayarakat, sifat malu yang oleh Rosulullah ditempatkan sebagai kontrol diri, “Al haya’u khoiru kulluhu”, sebagai pertimbangan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan, sehingga Nabi pernah berkata, ” berbuatlah semaumu jika engkau sudah tidak mempunyai malu”, yang perlu digaris bawahi “malu” yang ditekankan Nabi bukanlah malu permukaannya saja alias malu-malu kucing, karena sikap “malu malu kucing” hanya akan melahirkan perilaku “ing ngarep munduk-munduk sajake sopan tapi ing mburine keranjingan”. Malu disini adalah “malu fitrah“, yakni sikap malu yang dihembuskan Allah untuk mengontrol sikap ke-manusiaan-nya manusia agar tidak jatuh ke sikap hewaniyah meskipun wadagnya adalah organ manusia.

Selain sikap malu, nilai-nilai dari agama seharusnya lebih bisa mengontrol perilaku individu. Agama yang oleh sebagian orang ditampatkan sebagai alat untuk mempertahankan kohesi sosial sekaligus sabagai institusi kontrol paling utama dalam hubungan sosial. Agama yang dimaknai, yang tidak hanya dan seharusnya, sebagai “penyambung lidah” antara makhluk dengan kholik (hablu minna Allah) tetapi menempatkan agama sebagai alat pengikat antara kholik, makhluk dan alam.

Semua konsep yang tertuang dalam pancasila dan undang-undang dasar seolah-olah terpatahkan dengan realita yang terjadi saat ini. Ironis memang, bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang memegang teguh adab ketimuran ternyata bisa berubah menjadi bangsa barbar, menerkam sesama bangsa sendiri. Lalu kemanakah nilai-nilai “unggah-ungguh” ketimurannya saat ini? Serta dimana letak pengejawantahan nilai-nilai agama yang kita banggakan? Seharusnya bangsa ini menjadi “uswatun hasanah” bagi bangsa lain, bukan sebaliknya, yang terus berkiblat pada bangsa lain yang minim dengan nilai-nilai kereligiusannya. Sikap imitasi terhadap perilaku bangsa lain akan menjadi pembenaran kata-kata Mochtar Lubis bahwa kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang terlalu lemah kita tiru kulit-kulit luar yang mempesonakan.

Pertanyan selanjutnya, apakah bangsa ini sebetulnya adalah penganut liberalisme ketuhanan? Dimana agama hanya disimpan dalam masing-masing individu dan hanya mengenal agama jika hanya berada dalam tempat-tempat dan hari-hari besar agama, setelah itu agama digantungkan begitu saja, perlakuan ini tak lebih agama diperlakukan layaknya baju kedinasan yang hanya dipakai ditampat dan hari-hari tertentu.

Sudah saatnya kita harus mengubah sikap pandang terhadap fungsi agama demi tercapainya kehidupan yang “mawadah wa rohmah“. Apalagi ditengah-tengah kondisi masyarakat yang terjangkiti penyakit jiwa. Agama harus menjadi terapi yang bisa menyembuhkan sekaligus mencegah kambuhnya penyakit jiwa tersebut. Banyak sekali yang bisa kita ambil dari substansi agama untuk dijadikan “tombo ati”, salah satunya adalah solat.

Sholat sebagai terapi

Seperti yang difirmankan Allah S.W.T, “bacalah kitab yang telah diwahyukan kapadamu (Muhammad) dan laksanakanlah solat. Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Sholat yang Allah tempatkan sebagai alat pertahanan diri terhadap perbuatan fahsya’ wa al mungkar bisa menjadi efektif jika dan hanya jika sebanding pemaknaan seseorang terhadap solatnya, apakah sebagai kewajiban , paksaan, atau kebutuhan?

Banyak buku-buku yang memaparkan dari fungsi sholat. Semuanya mencoba menggali manfaat sholat sebagai wahana penyehatan mental umat. Penyakit mental adalah penyakit yang tak terlihat tetapi dampaknya bisa kita rasakan. Penyakit jiwa adalah penyakit yang menyangkut mental diri seseorang maka cara penyembuhannya juga harus dilakukan sendiri bukan orang lain yang harus menyembuhkan.

Penyembuhan tidak cukup dilakukan sekali, apalagi penyakit mental, tetapi memerlukan sikap istiqomah dengan waktu-waktu tertentu. Oleh sebab itu dalam perintah solat tidak disebutkan bahwa solat dilaksanakan hanya sekali saja dalam seumur hidup melainkan semenjak manusia baliq hingga mendekati ajal. Mengapa sholat dilaksanakan secara istiqomah? Prof.Dr. H. Jalaluddin dalam bukunya “psikologi agama” menuliskan bahwa, “agaknya cukup logis kalau setiap ajaran agama mewajibkan penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan pelaksanaan ibadah agama, paling tidak akan ikut berpengaruh dalam menanamkan keluhuran budi yang pada puncaknya akan menimbulkan rasa sukses sebagai pengabdi Tuhan yang setia. Tindakan ibadah, yang dilakukan secara istiqomah, setidak-tidaknya akan memberi rasa bahwa hidup menjadi lebih bermakna.

Selain diperintahkan berlaku istiqomah dalam sholat, Allah menyuruh agar solat dilaksanakan dengan khusyu’, “katakanlah,’Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kapada Allah) pada setiap solat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula”. Pentingnya sikap khusyu’ dalam solat sehingga Allah melarang solat dalam keadaan mabuk (pikiran yang tidak fokus).

Dengan solat yang istiqomah dan khusyu’ ini diharapkan bisa memberikan efek terhadap kesehatan mental masyarakat, dan yang terpenting diperhatikan adalah sikap khusyu’ jangan hanya dilakukan dalam sholat saja melainkan juga ditransformasikan dalam perilaku sehari-hari. Bukankah Allah mengancam terhadap orang-orang yang solat, yang sholatnya tidak menjiwai perilakunya dalam kehidupan sosial?

Wa Allahu a’lam.

Khoirul Anwar





Generasi Tinggal Landas

8 06 2009

Oleh: Khoirul Anwar

“Salam buat mantan pacarku, puaskah engkau melukai hati ini?”.

“Ku harap engkau ‘kan ‘salu setia, karena ‘tlah kuberikan semua padamu!”.

“gank nero: neko-neko royok”, “anak-anak kisruh”, “anak-anak punk kota mayit.

Masih banyak lagi yang kita dengar atau kita lihat nada atau tulisan-tulisan semacam itu di radio, TV atau coretan-coretan di bangku sekolah, bangku TPA, tembok-tembok di pinggir jalan. Memang kata-kata itu terasa ganjil bagi kita yang terasing dengan bahasa gaulnya anak sekarang. Tetapi perlu disadari bahwa itu semua adalah hasil sintesis dari benturan-benturan peradaban yang sedang berlangsung, sebuah kebingungan plus pergolakan untuk menunjukakan eksistensi diri “ABG”. Ekspresi, benturan budaya sekaligus rasa gagap terakumulasi dalam kehidupan anak muda yang mengejawantah lewat hasil kemajuan teknologi “sesepuhnya”.

Media, apa saja bentuknya yang penting bisa sebagai media pelampiasan, ingin di-apresiasi kembali dan memberikan warna baru dalam jagad teknologi ini. Mereka tidak ingin kalau media hanya diduduki oleh para “sesepuhnya”, mereka menginginkan persamaan hak dalam menikamati kemajuan dari rahim zamannya. Media komunikasi bukanlah sekedar tempat memperbincangkan politik, bisnis, berita maju mudurnya bangsa, naiknya harga kebutuhan pokok yang terus menghimpit kondisi perekonomian orang tua mereka. Kata mereka: harus ada warna baru, sensasi yang beda dalam media informasi. Dari sinilah terciptakan kata-kata, adegan-adegan yang memang bukan untuk disandiwarakan, dipura-purakan, melainkan sebuah kenyataan. Mereka para pencipta peradaban baru meskipun peradaban yang entah berantah dan keluar dari epistimilogi “adab”.

Kemunculan perilaku dikalangan anak muda merupakan kerinduan mengenai sesuatu yang beda, sebuah motivasi untuk hadir, sebuah kerinduan untuk menunjukkan: ini dadaku! Tampil dan eksis. Membuat budaya tandingan dengan penduhulunya, mereka tak mau dikatakan membebek para “sesepuhnya yag terlihat “ndeso”. Mereka ingin meniru perilaku superior, layaknya supermen dengan gesit dan tangkasnya dalam bertindak sehingga menimbulkan kejutan-kejutan. Ini adalah “shock terapy” bagi orang tua.

Demam eksis bukanlah sesuatau yang abnoramal, begitu Ainun Najib mengatakan. Ia sah dan wajar dan amat manusiawi. Itu vitalitas pribadi. Energi hidup. Potensi. Anak kita begitu nakal, tapi ini suatu potensi: setiap perwujudan potensi butuh modus, bentuk media, atau saluran-saluran. Persoalannya ialah, bentuk-ragam lingkungan sosial budaya kita seberapa banyak dan berkualitas menyediakan kemungkinan untuk itu. Atau, dalam prinsip-prinsip kretivitas, apakah pendidikan bagi manusia-mansuia serta kebiasaan-kebiasan kehidupan mendorong mereka untuk mencari manefestasi dari potensinya masing-masing. Kemudian apakah masyarakat mampu menampungnya dan memberi ruang gerak baginya. (Emha Ainun Najib. Indonesia bagian dari desa saya, hal.90)

Ambil contoh: GANK NERO misalnya. Ia adalah manefestasi bahwa perempuan juga kuat, bisa berkelahi. Perempuan bukan identik dengan kefeminimannya yang selama ini diciptakan dalam benak kita. Mereka juga bisa membuat perkumpulan, menggalang rasa solidaritas diantara anggota, perempuan. Mereka juga ingin di hormati, ditakuti. Mereka tidak ingin menjadi objek terus tetapi menjdi subjek yang memainkan pergaulan. Mereka tak mau diperkosa kalau bisa gantian mereka yang memperkosa. Hanya saja cara mengekspresiakan wujud pemberontakan salah “:empan-papan”. Pemberontakan mereka seharusnya dimulai dari paradigma yang selama ini dibangun oleh masyarakat. Karena selama ini paradigma mengenai solidaritas, rasa superior, dihormati terlebih dahulu dengan menciptakan gank, berubah menjadi rahwana, buta yang menakutkan. Ini adalah peninggalan peradaban yang minim reativitas, sepi dari filosofi. Rasa dihormati tak perlu dengan membentuk perkumpulan yang menyeramkan, dengan wajah garang, rambut acak-acakan. Kita harus ingat dengan nilai-niai luhur yang mengatakan bahwa” ngluruk tanpo bolo, sekti tanpa aji, menang tanpo ngasorake”, pitutur luhur ini menegaskan bahwa untuk menjadi orang disegani tidak selalu dengan berwajah garang atau bersikap tangan besi kepada orang lain. Rasa hormat bisa dibangun lewat kecerdasan itntelektual, maupun kesalehan spiritual maupun sosial. Fenomena yang berkembang dikalangan anak-anak muda merupakan bentuk krisis. Krisis apa? Bisa krisis kreativitas, krisis keterbatasan untuk memaknai nilai-nilai agama maupun norma-norma atupun krisis untuk mengekspriskan potensi diri.

Anak-anak kita bukan lagi sebuah layang-layang, yang berlenggak-lenggok diangkasa tapi masih kita kendalikan. Anak-anak kita adalah sebuah pesawat dan dikemudikan oleh dirinya sendiri. Mereka telah meninggalkan landasan dan melesat entah kemana. Apakah ia akan mendarat pada peradaban yang luhur atau mereka hanya akan terperosok ke lembah kehancuran. Saat ini mereka bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Melesat dengan cepat, tepat sasarannya dari anak panah tergantung dari kita bagaimana kita mengarahkan anakk panah tersebut ketika masih diantara busur dan gendewa. Artinya baik buruknya anak tergantung didikan keluarga, kebiasan keluarga menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Kenakalan remaja bukanlah timbul dari satu faktor saja, melainkan banyak faktor yang menyelimuti keadaan mereka. Anak ibaratnya sebuah senyawa kompleks yang ditentukan dari ligan-ligan yang menyumbangkan “elektron peradaban” pada pemikiran yang akhirnya membentuk sifat yang komplek pula. Seringkali kita menyalahkan lembaga pendidikan yang tak becus mendidik atau menyalahkan lingkungan sekitar kita yang notabenenya memang sudah salah. Kita memang tak pernah berfikir dari perilaku kita senddiri.

Anak adalah bentuk copy diri kita. Copy-an sifat yang dibawalah oleh DNA yang tersimpan pada Sperma dan Indung telur. Sedangkan keduanya tersimpan dalam tempat yang di set memang untuk merekam perilaku kita. Ibaratnya dia adalah kotak hitam pada sebuah pesawat, yang merekam segala komunikasi yang kita lakukan. Jadi perilaku kita sebelum berkeluarga juga menyumbang factor penentu sifat pada diri anak. Ini belum lagi ditambah saat kita melakukan Saresmi, apakah kegiatan yang begitu sakral ini selimuti nafsu atau memang bertujuan ingin menitiskan benih yang unggul sehingga memunculkan “bocah” yang berakhlak mulia.

Sekali lagi kenakalan remaja tak hanya tercipat oleh faktor lingkungan, melainkan sebuah hasil reaksi dari berbagi komponen (perilaku) yang akhirnya mengendap dibawah sadar anak. Kenakalan remaja adalah protes keadaan, waktu yang disalurkan lewat anak mengenai miskinnya Uswatun hasanah . karena seringkali terjadi antara ucapan orang tua saat menasehati anak tidak sesuai dengan perilakunya sendiri. Saatnya berhenti memberikan ceramah jika memang kita memang tak patut jadi juru ceramah karena itu semua hanya akan membuat jurang yang lebar antara kata dan perbuatan.

Harus kita ingat bahwa “anak polah bapa kepradah” (segala tingkah laku anak pasti akan membawa persolan baru untuk orang tua), begitu juga sebaliknya, “bapo polah anak kepradah”, tingkah laku orang tua juga akan menjadi kiblat sang anak bahkan bisa menjadikan anak-anak menjadi pembantah yang sejati.

” hai orang –orang yang beriman jaga lah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusai dan batu; pejaganya malikat-malikat yang kasar dan k eras, yang tidak mendurhakai kepada Allah terhadap apa yana Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( Q.S. AT Tahrim :6)

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga Yogykata





Perjalanan Hati Manusia

8 06 2009

(renungan sebagai proses perjalanan hidup sesungguhnya)

Oleh: Nida Nur Roisah

Hati adalah anugerah yang diberikan Allah Swt.kepada manusia untuk selalu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan menjadi hati yang bersih dan selalu dijaga oleh pemiliknya. Maka hidupkanlah hati sebagai jalan untuk selalu mencari ridha dan petunjuk Allah Swt.

Menjaga hati dari godaan, baik internal maupun eksternal, bukanlah persoalan mudah. Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sedang menerpanya, maka akan tercipta gejolak di pikiran dan batinnya. Gejolak inilah yang menciptakan sebuah dinamika kehidupan, yang naik turun sesuai tingkat frekuensi permasalahan yang dihadapi.

Hati adalah “nabi” bagi pemiliknya, yang selalu dimintai pertimbangan dikala tempat mangadu tidak ada. Hati adalah lentera yang menerangi jalan-jalan setapak kehidupan yang cukup rumit, panggung teater kehidupan yang digelar Allah untuk menguji kesetiaan manusia, menyelami karakter para “pemainnya”, apakah para aktor-aktor tersebut bermain sesuai “rule of game” atau menyimpang dari aturan main.

Hati merupakan “agama” yang awal. Cahaya ketauhidan menjadi dasar sekaligus spirit kehidupan bagi pemilikya untuk melakukan setiap kebaikan di muka bumi. Orang yang memiliki hati yang bening akan menangggapi problem bukan dengan cara “pasrah bongkoan”, menyerahkan begitu saja kepada siapa saja yang dianggapnya mampuni: dukun, paranormal atau yang lain. Dengan hati yang bersih segala persoalan akan terlihat cerah. Oleh karena itu hati merupakan anugerah terindah, tak ternilai harganya dibandingkan dengan sesuatu apapun.

Hati merupakan permata yang terpendam di relung jiwa maupun raga manusia. “Permata” ini selayaknya harus tetap dijaga kebeningannya, agar cahaya kebenaran bisa direfleksikan kembali dan memancarkan aura pada pemiliknya. Menjaga hati tidaklah semudah yang dibayangkan apalagi untuk memberikannya, perlu kesiapan dan keadaan lahir batin. Karena setiap manusia yang diciptakan Allah diberi banyak kekurangan dan banyak kelebihan untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Oleh karena itu, bagaimana kita menjauhi sesuatu yang baik menurut kita ataupun orang lain begitupun sebaliknya.

Proses membersihkan harus diawali dari kebiasaan kehidupan sehari-hari yaitu bagaimana mencari dan membiasakan berbuat hal-hal yang positif dan selalu berfikir positif, begitupun juga untuk menjaganya, baiknya harus diniatkan dari awal bahwa menjaga hati dari hal-hal yang dilarang agama.

Bagaimana peran hati untuk selalu membersihakannya dan selalu menjaganya…

Hati adalah qolbun salim

Sebisa mungkin untuk menata dan menjaganya karena itu bekal untuk menjadi dan membentuk karekter hati untuk selalu berbuat baik dan menghindari hal-hal buruk, sebab itu akan berpengaruh pada diri kita dan keselamatan hati kita.

Belajar untuk sabar menghadapi segala cobaan hidup

Apabila kita mendapatkan persolaan ataupun permasalahan hidup kita juga merasakannya. Sabar dalam hal ini mempunyai tingkatan-tingkatan:

  • Sabar terhadap perintah dan ketaatan

  • Sabar terhadap larangan-laranganNya

  • Sabar terhadap takdir dan qadha Allah

Ahmad Farid, olah raga hati.Aqwam: solo.2008

Belajar untuk selalu ikhlas

Ikhlas diartikan bahwa kita harus menerima ataupun memberikan sesuatu dengan lapang dada tanpa pamrih sedikitpun. Ikhlas didasari niat, maka akan terasa selamanya. Ikhlas mempermudah persoalan ataupun kesulitan, melancarkan silaturrahmi dan menjadikan luasnya rasa kekeluargaan antara sesama manusia.

Barbagi dan saling mengasihi

Pada dasarnya hati harus dilandasi dengan pondasi yang kuat yaitu iman, apabila iman kuat maka hatipun kuat. Apabila dalam hidup kita menjadikan pondasi tersebut untuk saling memberi, berbagi dan saling mengasihi dengan sesama manusia, insyaAllah akan terwujud kerukunan antar sesama manusia.

Dengan demikian, begitu pentingnya peran hati dalam diri dan kehidupan kita, menjadikan hati untuk selalu berbuat baik kepada orang lain dan diri kita sendiri, sehingga akan terwujud keselarasan dalam menjalani indahnya kebersamaan. Dengan menjaga hati dan membersihkannya, kita terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Hati merupakan suatu organ dalam tubuh kita yang harus dijaga keberadaannya sebab hati berpengaruh dengan situasi fisik kita terutama.

Membersihkan hati dan menjaganya menjadi tugas kita bersama sebagai makhluk hidup yang diciptakan Allah untuk selalu menjadikan hati sebagai pondasi iman. Keberlangsungan proses kehidupan yang berkesinambungan, jika hati manusia selalu merasakan hal-hal yang positif dan keadaan yang baik, maka hati kita akan terus selalu hidup menjaga jiwa dan raga kita, maka sebaiknya hati harus diberlakukan dengan baik agar nantinya hati akan terasa tenang ketika pemiliknya juga selalu menjaga keberadaannya. Oleh karena itu kuatnya hati terletak pada kuatnya kita menjaga keimanan.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta